SERING kita dengar kalimat “Keaneragaman merupakan anugerah dari Tuhan”. Kalimat tersebut bisa diterima dan bisa juga ditolak. Bisa diterima jika keaneragaman atau perbedaan tersebut bersifat saling melengkapi dan tidak mengandung norma kebenaran atau ketidakbenaran. Tetapi manakala memasuki wilayah benar dan tidak benar, maka harus dicari yang lebih benar atau paling benar. Sebab, di dalam ilmu logika, tidak ada dua kebenaran atau lebih yang memiliki kebenaran yang sama dan identik.
Contohnya, perbedaan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal sudah berlangsung puluhan tahun. Walaupun tidak mempengaruhi akidah, namun berpotensi bisa menimbulkan gesekan-gesekan dan riak-riak sosial yang kurang baik. Terkesan umat Islam tidak punya kriteria standar yang bersifat baku karena tiap golongan umat punya kriteria masing-masing yang berbeda.
Mungkin, sudah saatnya pemerintah memfasilitasi semua tokoh agama yang memiliki kriteria berbeda soal penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal tersebut. Sebaiknya para tokoh agama duduk bersama untuk mencari titik temu berdasar azas musyawarah untuk mufakat. Perlu juga diundang para pakar astromomi dan pakar ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya yang terkait. Perlu dipahami bahwa perbedaan-perbedaan tersebut bukan anugerah dari Tuhan, melainkan merupakan hasil budaya pikir para tokoh agama yang masing-masing bersifat egois.
Hariyanto Imadha
BSD Nusaloka Sektor XIV-5
Jl.Bintan 2 Blok S-1/11
Tangerang Selatan
.——————————————————————————————————
Catatan:
Terkirim ke 200 surat kabar melalui e-mail.












