SAYA, sebagai pengamat perilaku (behavior observer) sejak 1973 tahu benar bahwa sebagian besar bangsa Indonesia mempunyai sifat basa-basi.Kalau dihitung sejak Indonesia merdeka, maka sebenarnya bangsa Indonesia sudah 66 kali menjalani puasa Ramadhan.Sebagian ada yang menjalaninya dengan tekun dan tetap beraktivitas, namun sebagian lagi berpuasa dan mengisi waktunya dengan tidur-tiduran dan bermalas-malasan.
Selama berpuasa memang banyak umat Islam yang berkelakuan baik, antara lain bersodaqoh, berzakat, tarawih, dan kegiatan amal bakti lainnya yang sangat bermanfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain.Namun sebagian besar, kelakuan baik itu hanya bersifat artifisial dan sementara saja.
“Behavior is behavior”.Artinya, manusia sangat mudah kembali ke kelakuan aslinya. Artinya, sesudah Ramadhan, maka kelakuan aslinya akan muncul lagi, baik disadari ataupun tidak disadari. Begitu juga masalah kebiasaan bruk atau “habit” juga muncul lagi.
Contoh munculnya kembali kelakuan buruk sesudah Ramadhan:Kompleks PSK dibuka lagi,korupsi jalan terus,masih suka mencela sesama muslim dengan menggunakan ayat Al Qur’an atau hadits,membuang sampah seenaknya,merokok di sembarang tempat termasuk di kendaraan umum,ngrumpi, pungli, nepotisme jalan terus,seribu kali berjanji mengucapkan insya allah seribu kali ingkar janji,suka mencela ,tidak disiplin berlalu lintas,tidak disiplin masuk kerja.tidak mau bersedekah (padahal sedekah bisa kapan saja),utang pajak tidak mau bayar,wakil rakyat masih suka membolos,dan masih sangat banyak kelakuan buruk yang asli keluar lagi.
Mungkin, dari seribu orang,hanya satu orang yang berhasil mengubah perilakunya dari perilaku buruk menjadi perilaku yang baik. Lainnya, yang baik tetap baik dan yang buruk tetap buruk.
Hariyanto Imadha
BSD Nusaloka Sektor XIV-5
Jl.Bintan 2 Blok S-1/11
Tangerang
.——————————————————————————————————
CATATAN:
Terkirim ke 200 surat kabar












